Archives

DASAR-DASAR PENGETAHUAN 2


DASAR-DASAR  PENGETAHUAN

 

 

PENGETAHUAN

Pengetahuan merupakan segala sesuatu yg diketahui manusia.

Suatu hal yang menjadi pengetahuan selalu terdiri atas unsur yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahui. Karena itu pengetahuan menuntut adanya subjek yang mempunyai kesadaran untuk mengetahui tentang sesuatu dan objek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal yang ingin diketahuinya.

 

MANUSIA

Mahluk hidup ciptaan Tuhan  yang paling sempurna dibandingkan mahluk hidup  yg lain (hewan dan tumbuhan)

 

MENGAPA  MANUSIA  MEMERLUKAN PENGETAHUAN?

  • Manusia  mempunyai sifat  rasa ingin tahu  tentang  sesuatu,  dan rasa ingin  tahu itu  selalu berkembang  dari waktu ke waktu .
  • Untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang  selalu berubah  dan meningkat dari waktu kewaktu.

 

Sebelum berajak ke pembahasan-pebahasan yang lebih rumit tentang sub-sub filsafat sains terlebih dahulu kita membincangkan tentang dasar-dasar pengetahuan sebagai langkah menuju ke pemahaman yang lebih sistematis dan komprehensif. Di dalamnya akan dibahas beberapa term yang berkaitan dengan pengetahuan itu sendiri. Dengan membicarakan topik ini diharapkan kita mampu memahami unsur-unsur yang dapat membantu manusia untuk memiliki pengetahuan dalam hidupnya. Maka, di sini akan dibahas pengalaman, ingatan, kesaksian, minat dan rasa ingin tahu, pikiran dan penalaran, logika, bahasa, serta kebutuhan hidup manusia.
Pengalaman

Hal yang pertama dan paling utama yang mendasarkan pengetahuan adalah pengalaman. Pengalaman adalah keseluruhan peristiwa yang terjadi dalam diri manusia dalam interaksinya dengan alam, lingkungan dan kenyataan, termasuk Yang Ilahi. Pengalaman terbagi menjadi dua: (1) pengalaman primer, yaitu pengalaman langsung akan persentuhan indrawi dengan benda-benda konkret di luar manusia dan peristiwa yang disaksikan sendiri; (2) pengalaman sekunder, yaitu pengalaman tak langsung atau reflektif mengenai pengalaman primer. Sekedar contoh, saya dapat melihat teman-teman dengan kedua mata saya dan saya dapat mendengar komentar teman-teman dengan kedua telinga saya. Inilah pengalaman primer. Adapun pengalaman sekunder, saya sadar akan apa yang saya lihat dengan kedua mata saya dan sadar akan apa yang saya dengar dengan kedua telinga saya.
Paling tidak, ada tiga ciri pokok pengalaman manusia. Pertama, pengalaman manusia yang beraneka ragam. Kedua, pengalaman yang berkaitan dengan objek-objek tertentu di luar diri kita sebagai subjek. Dan ketiga, pengalaman manusia selalu bertambah seiring dengan pertambahan usia, kesempatan, dan kedewasaan.

Ingatan

Pengetahuan manusia juga didasarkan pada ingatan sebagai kelanjutan dari pengalaman. Tanpa ingatan, pengalaman indrawi tidak akan bertumbuh menjadi pengetahuan. Ingatan mengandalkan pengalaman indrawi sebagai sandaran ataupun rujukan. Kita hanya dapat mengingat apa yang sebelumnya telah kita alami. Kendati ingatan sering kabur dan tidak tepat, namun kita dalam kehidupan sehari-hari selalu mendasarkan pengetahuan kita pada ingatan baik secara teoritis dan praktis. Seandainya ingatan tak dapat kita andalkan maka kita tak dapat melakukan tugas sehari-hari seperti mengenal sahabat, pacar, dan lain-lain. Tanpa ingatan, kegiatan penalaran kita menjadi mustahil. Karena untuk bernalar dan menarik kesimpulan dalam premis-premisnya kita menggunakan nalar.
Ingatan tidak selalu benar dan karenanya tidak selalu merupakan bentuk pengetahuan. Agar ingatan dapat dijadikan rujukan dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya bagi pengetahuan, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi yakni: (1) kesaksian dan (2) konsisten.

Kesaksian

“Kesaksian” dimaksudkan untuk penegasan sesuatu sebagai benar oleh seorang saksi kejadian atau peristiwa, dan diajukan kepada orang lain untuk dipercaya. “Percaya” dimaksudkan untuk menerima sesuatu sebagai benar yang didasarkan pada keyakinan dan kewenangan atau jaminan otoritas orang yang memberi kesaksian.
Dalam mempercayai suatu kesaksian, kita tidak memiliki cukup bukti intrinsik untuk kebenarannya. Yang kita miliki hanyalah bukti ekstrinsik. Menurut Descartes, beberapa pemikir menolak kesaksian sebagai salah satu dasar dan sumber pengetahuan karena kesaksian bisa keliru dan bersifat menipu. Walaupun demikian, ada beberapa pengetahuan yang kebenarannya dirujukkan kepada kesaksian seperti sejarah, hukum, dan agama secara metodologis.

Minat dan Rasa Ingin Tahu
Tidak semua pengalaman dapat dijadikan pengetahuan atau tidak semua pengalaman berkembang menjadi pengetahuan. Untuk berkembang menjadi pengetahuan subjek yang mengalami harus memiliki minat dan rasa ingin tahu. Minat mengarahkan perhatian ke hal-hal yang dialami dan dianggap penting untuk diperhatikan. Ini berarti bahwa dalam kegiatan mengetahui terdapat unsur penilaian. Orang akan memperhatikan dan mengetahui apa apa yang ia anggap bernilai. Dan rasa ingin tahu mendorong untuk bertanya dan menyelidiki apa yang dialaminya dan menarik minatnya. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

 

Rasa ingin tahu terkait erat dengan pengalaman mengagumkan dan mengesankan dengan keheranan yang dialami. Mengajukan pertanyaan yang tepat mengandaikan bahwa orang tahu di mana ia tahu dan di mana ia tidak tahu. Maka, mengajukan pertanyaan yang tepat adalah langkah pertama untuk memperoleh jawaban yang tepat.

Pikiran dan Penalaran
Kegiatan pokok pikiran dalam mencari kebenaran dalam pengetahuan adalah penalaran. Bagi seorang guru, nalar adalah latihan intelektual untuk meningkatkan akal budi anak didik. Bagi seorang advokat, nalar adalah cara membela dan menyanggah kesaksian. Bagi ekonom, nalar adalah sarana membagi sumber daya untuk meningkatkan efisiensi, daya guna, dan kemakmuran. Sedang, bagi ilmuwan, nalar adalah metode merancang percobaan untuk memeriksa hipotesis. Nalar dalam kehidupan kita sehari-hari selalu diartikan rasionalitas. Nicholas Rescher mengatakan, “Bersikap rasional berarti menggunakan kecerdasan untuk menentukan tindakan terbaik dalam suatu keadaan.” Ini definisi kasar, tapi berguna sebagai landasan untuk membangun suatu argumen.
Penalaran adalah proses penarikan kesimpulan dari hal-hal yang telah diketahui sebelumnya. Setidaknya ada tiga metode dalam proses penalaran. Pertama, induksi yakni penalaran yang menarik kesimpulan umum (universal) dari kasus-kasus tertentu (partikular). Kedua, deduksi yakni penalaran untuk merumuskan sebuah hipotesis berupa pernyataan umum yang kemungkinan pernyataannya masih perlu untuk diuji coba.

Logika

Dalam logika, ada tiga rumus yang menjadi dasar-dasar pengetahuan. Pertama, silogisme kategoris yakni silogisme yang terdiri dari proposisi-proposisi yang bersifat kategoris, yaitu proposisi yang berbentuk S itu P atau S itu bukan P.

Contoh: Semua manusia dapat mati

Ken Arok adalah manusia

Ken Arok dapat mati

Contoh di atas adalah silogisme kategoris yang bersifat yang bersifat positif. Tapi silogisme kategoris juga bisa bersifat negatif. Maka, secara umum ada empat silogisme kategoris sejajar dengan empat jenis proposisi kategoris.

Afirmatif universal (A) : Semua manusia dapat mati

Negatif universal (B)   : Semua manusia tidak dapat hidup terus

Afirmatif universal (I)  : Beberapa orang dapat berenang

Negatif partikular (O)  : Beberapa orang tidak dapat berenang
 

Kedua, silogisme hipotetis yakni silogisme dalam proposisi bersyarat.

(1) Modus ponens: Kalau p – q

Tetapi p

Maka q
(2) Modus tollens: Kalau p – q

Tetapi q

Maka q
Bentuk-bentuk silogisme hipotetis lain tidak sahih.
Dan ketiga, silogisme disjungtif adalah silogisme yang sahih hanya dalam salah satu kemungkinan yang menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan lain.
Contoh: Atau p, atau q, atau r

Tapi bukan p dan bukan r

Maka r

Bahasa

Di samping logika penalaran juga mengandaikan bahasa. Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengungkapkan pengetahuannya. Dalam eksperimen antara bayi dan anak kera yang lahir secara bersama waktunya, pada awalnya keduanya berkembang hampir sejajar. Tapi seorang anak mulai bisa berbahasa, daya nalarnya menjadi amat berekembang dan pengetahuan tentang diri sendiri serta lingkungannya menjadi jauh melampaui kera seusianya.

Kebutuhan Hidup Manusia
Dalam interaksinya dengan dunia dan lingkungannya manusia membutuhkan pengetahuan. Maka, kebutuhan manusia juga dapat mendasari dan mendorong manusia untuk mengembangkan pengetahuannya. Berbeda dengan binatang, manusia memperoleh pengetahuan tidak hanya didasarkan pada instingtif tapi juga kreatif. Manusia adalah makhluk yang mampu menciptakan alat, memiliki strategi, dan kebijaksanaan dalam bertindak.

Walaupun kebutuhan manusia yang mendasari pengetahuan termasuk ke dalam dimensi pragmatis pengetahuan tapi juga terdorong oleh rasa keingintahuan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

CARA  MEMPEROLEH  PENGETAHUAN
(SUMBER PENGETAHUAN)

l  WAHYU

l  PENGALAMAN

l  OTORITAS

l  BERPIKIR  DEDUKTIF

l  BERPIKIR INDUKTIF

l  METODE  ILMIAH

 

 

 

PERBEDAAN  ANTARA MANUSIA DAN HEWAN

 

l  Mahluk berpikir (homo sapiens)

l  Mampu membuat alat/menggunakannya (homo faber)

l  Dapat  berbicara/ berbahasa (homo longuens)

l  Hidup bermasyarakat (homo socius)

l  Hidup berekonomi (homo aeconomicus)

l  Menyadari adanya  Tuhan  YME. (homo relijius)

 

               

Referensi
J. Sudarminta, Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 32.
Donald B. Calne, Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia, terj. Parakitri T. Simbolon (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2005), hlm. 19-20.

sumber :http://blog.unsri.ac.id/fitrianarahmawati

Advertisements

DASAR-DASAR PENGETAHUAN


DASAR-DASAR PENGETAHUAN

Pengalaman

Hal yang pertama dan paling utama yang mendasarkan pengetahuan adalah pengalaman. Pengalaman adalah keseluruhan peristiwa yang terjadi dalam diri manusia dalam interaksinya dengan alam, lingkungan dan kenyataan, termasuk Yang Ilahi. Pengalaman terbagi menjadi dua: (1) pengalaman primer, yaitu pengalaman langsung akan persentuhan indrawi dengan benda-benda konkret di luar manusia dan peristiwa yang disaksikan sendiri; (2) pengalaman sekunder, yaitu pengalaman tak langsung atau reflektif mengenai pengalaman primer.[1] Sekedar contoh, saya dapat melihat teman-teman dengan kedua mata saya dan saya dapat mendengar komentar teman-teman dengan kedua telinga saya. Inilah pengalaman primer. Adapun pengalaman sekunder, saya sadar akan apa yang saya lihat dengan kedua mata saya dan sadar akan apa yang saya dengar dengan kedua telinga saya.

Paling tidak, ada tiga cirri pokok pengalaman manusia. Pertama, pengalaman manusia yang beraneka ragam. Kedua, pengalaman yang berkaitan dengan objek-objek tertentu di luar diri kita sebagai subjek. Dan ketiga, pengalaman manusia selalu bertambah seiring dengan pertambahan usia, kesempatan, dan kedewasaan.[2]

Ingatan

Pengtahuan manusia juga didasarkan pada ingatan sebagai kelanjutan dari pengalaman. Tanpa ingatan, pengalaman indrawi tidak akan bertumbuh menjadi pengetahuan. Ingatan mengandalkan pengalaman indrawi sebagai sandaran ataupun rujukan. Kita hanya dapat mengingat apa yang sebelumnya telah kita alami. Kendati ingatan sering kabur dan tidak tepat, namun kita dalam kehidupan sehari-hari selalu mendasarkan pengetahuan kita pada ingatan baik secara teoritis dan praktis. Seandainya ingatan tak dapat kita andalkan maka kita tak dapat melakukan tugas sehari-hari seperti mengenal sahabat, pacar, dan lain-lain. Tanpa ingatan, kegiatan penalaran kita menjadi mustahil. Karena untuk bernalar dan menarik kesimpulan dalam premis-premisnya kita menggunakan nalar.

Ingatan tidak selalu benar dan karenanya tidak selalu merupakan bentuk pengetahuan. Agar ingatan dapat dijadikan rujukan dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya bagi pengetahuan, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi yakni: (1) kesaksian dan (2) konsisten.[3]

Kesaksian

“Kesaksian” dimaksudkan untuk penegasan sesuatu sebagai benar oleh seorang saksi kejadian atau peristiwa, dan diajukan kepada orang lain untuk dipercaya. “Percaya” dimaksudkan untuk menerima sesuatu sebagai benar yang didasarkan pada keyakinan dan kewenangan atau jaminan otoritas orang yang memberi kesaksian.

Dalam mempercayai suatu kesaksian, kita tidak memiliki cukup bukti intrinsik untuk kebenarannya. Yang kita miliki hanyalah bukti ekstrinsik. Menurut Descartes, beberapa pemikir menolak kesaksian sebagai salah satu dasar dan sumber pengetahuan karena kesaksian bisa keliru dan bersifat menipu. Walaupun demikian, ada beberapa pengetahuan yang kebenarannya dirujukkan kepada kesaksian seperti sejarah, hukum, dan agama secara metodologis.[4]

Minat dan Rasa Ingin Tahu

Tidak semua pengalaman dapat dijadikan pengetahuan atau tidak semua pengalaman berkembang menjadi pengetahuan. Untuk berkembang menjadi pengetahuan subjek yang mengalami harus memiliki minat dan rasa ingin tahu. Minat mengarahkan perhatian ke hal-hal yang dialami dan dianggap penting untuk diperhatikan. Ini berarti bahwa dalam kegiatan mengetahui terdapat unsur penilaian. Orang akan memperhatikan dan mengetahui apa apa yang ia anggap bernilai. Dan rasa ingin tahu mendorong untuk bertanya dan menyelidiki apa yang dialaminya dan menarik minatnya. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Rasa ingin tahu terkait erat dengan pengalaman mengagumkan dan mengesankan dengan keheranan yang dialami. Mengajukan pertanyaan yang tepat mengandaikan bahwa orang tahu di mana ia tahu dan di mana ia tidak tahu. Maka, mengajukan pertanyaan yang tepat adalah langkah pertama untuk memperoleh jawaban yang tepat.[5]

Pikiran dan Penalaran

Kegiatan pokok pikiran dalam mencari kebenaran dalam pengetahuan adalah penalaran. Bagi seorang guru, nalar adalah latihan intelektual untuk meningkatkan akal budi anak didik. Bagi seorang advokat, nalar adalah cara membela dan menyanggah kesaksian. Bagi ekonom, nalar adalah sarana membagi sumber daya untuk meningkatkan efisiensi, daya guna, dan kemakmuran. Sedang, bagi ilmuwan, nalar adalah metode merancang percobaan untuk memeriksa hipotesis. Nalar dalam kehidupan kita sehari-hari selalu diartikan rasionalitas. Nicholas Rescher mengatakan, “Bersikap rasional berarti menggunakan kecerdasan untuk menentukan tindakan terbaik dalam suatu keadaan.” Ini definisi kasar, tapi berguna sebagai landasan untuk membangun suatu argumen.[6]

Penalaran adalah proses penarikan kesimpulan dari hal-hal yang telah diketahui sebelumnya. Setidaknya ada tiga metode dalam proses penalaran. Pertama, induksi yakni penalaran yang menarik kesimpulan umum (universal) dari kasus-kasus tertentu (partikular). Kedua, deduksi yakni penalaran untuk merumuskan sebuah hipotesis berupa pernyataan umum yang kemungkinan pernyataannya masih perlu untuk diuji coba.

Logika

Dalam logika, ada tiga rumus yang menjadi dasar-dasar pengetahuan. Pertama, silogisme kategoris yakni silogisme yang terdiri dari proposisi-proposisi yang bersifat kategoris, yaitu proposisi yang berbentuk S itu P atau S itu bukan P.

Contoh: Semua manusia dapat mati
Ken Arok adalah manusia
Ken Arok dapat mati

Contoh di atas adalah silogisme kategoris yang bersifat yang bersifat positif. Tapi silogisme kategoris juga bisa bersifat negatif. Maka, secara umum ada empat silogisme kategoris sejajar dengan empat jenis proposisi kategoris.

Afirmatif universal (A) : Semua manusia dapat mati
Negatif universal (B) : Semua manusia tidak dapat hidup terus
Afirmatif universal (I) : Beberapa orang dapat berenang
Negatif partikular (O) : Beberapa orang tidak dapat berenang

Kedua, silogisme hipotetis yakni silogisme dalam proposisi bersyarat.

(1) Modus ponens: Kalau p – q
Tetapi p
Maka q

(2) Modus tollens: Kalau p – q
Tetapi q
Maka q

Bentuk-bentuk silogisme hipotetis lain tidak sahih.

Dan ketiga, silogisme disjungtif adalah silogisme yang sahih hanya dalam salah satu kemungkinan yang menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan lain.

Contoh: Atau p, atau q, atau r
Tapi bukan p dan bukan r
Maka r[7]

Bahasa

Di samping logika penalaran juga mengandaikan bahasa. Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengungkapkan pengetahuannya. Dalam eksperimen antara bayi dan anak kera yang lahir secara bersama waktunya, pada awalnya keduanya berkembang hampir sejajar. Tapi seorang anak mulai bisa berbahasa, daya nalarnya menjadi amat berekembang dan pengetahuan tentang diri sendiri serta lingkungannya menjadi jauh melampaui kera seusianya.[8]

Kebutuhan Hidup Manusia

Dalam interaksinya dengan dunia dan lingkungannya manusia membutuhkan pengetahuan. Maka, kebutuhan manusia juga dapat mendasari dan mendorong manusia untuk mengembangkan pengetahuannya. Berbeda dengan binatang, manusia memperoleh pengetahuan tidak hanya didasarkan pada instingtif tapi juga kreatif. Manusia adalah makhluk yang mampu menciptakan alat, memiliki strategi, dan kebijaksanaan dalam bertindak.

Walaupun kebutuhan manusia yang mendasari pengetahuan termasuk ke dalam dimensi pragmatis pengetahuan tapi juga terdorong oleh rasa keingintahuan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri.[9]
____________
[1] J. Sudarminta, Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 32.

[2] Ibid., hlm. 32-3

[3] Ibid., hlm. 34-5.

[4] Ibid., hlm. 36-7

[5] Ibid., hlm. 37-8.

[6] Donald B. Calne, Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia, terj. Parakitri T. Simbolon (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2005), hlm. 19-20.

[7] J. Sudarminta, Op. Cit., hlm. 40-1.

[8] Ibid., hlm. 42.

[9] Ibid., 43-44.

CREDIT : http://darul-ulum.blogspot.com

[kuliah] Hubungan Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan


Hubungan Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan :

1. Dasar-dasar Pengetahuan

Ilmu merupakan pengetahuan yang disusun secara teratur (sistematis) khususnya pengatahuan yang diperoleh melalui observasi dan pengujian fakta.

Ilmu => pengetahuan : 1. observasi dan 2. uji fakta.

Sehingga ilmu merupakan sekumpulan pengatahuan yang merupakan hasil observasi dan uji fakta. tidak semua pengetahuan merupakan ilmu.

sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI) ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu.

2. Bahasa Indonesia dan Pengambangan Ilmu Pengetahuan

Dua aspek bahasa dalam hubungannya dengan ilmu:

1. Fungsional

Merujuk pada fungsi bahasa yang begitu oenting dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai media yang dimiliki bersama dan digunakan untuk mengkomunikasikan pendapat, gagasan dan perasaan.

2. Formal

Merujuk pada sistem atau kaidah (tata bahasa) yang digunakan untuk membentuk menjadi kata dan memadu kata-kata menjadi kalimat yang bermakna. unsur :

a.Fonologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bunyi.

b. Sintaksis merupakan ilmu yang mempelajari tentang tatanan bahasa atau ilmu yang mempelajari tentang kalimat.

c. Semantik merupakan ilmu yang mempelajari tentang makna.

Hubungan bahasa, pikiran, dan ilmu pengetahuan:

* melalui kegiatan berpikir, manusia memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

* caranya, menghimpun serta memanipulasi ilmu dan pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, dan membayangkan.

* bahasa berperan sebagai simbol-simbol (representasi mental) yang dibutuhkan untuk memikirkan hal-hal yang abstrak dan tidak diperoleh melalui pengindraan.

Hubungan bahasa dan ilmu :

* Ilmu dapat berkembang jika temuan dalam ilmu itu disebarluaskan (dipublikasikan) melalui tindakan komunikasi.

* Temuan itu kemudian didiskusikan, diteliti ulang, dikembangkan, diterapkan, atau diperbaharui oleh ilmu lainya.

* Dalam proses tersebut menggunakan bahasa sebagai media (komunikasi)

[kuliah] hakikat bahasa indonesia


PERTEMUAN 1-3

HAKIKAT BAHASA

BAHASA DAN KEHIDUPAN MANUSIA

  • Apa itu bahasa?

Sistem lambang yang arbitrer yang dugunakan suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.

  • Darimana asal bahasa?
  1. dari manusia itu sendiri
  2. dari sejarah
  3. dari alam
  4. dari tuhan

upaya-upaya mengetahuinya merupakan kewajiban. seseorang yang mampumenguasai barbagai bahasa. dia akan luas pengetahuannya.

FUNGSI BAHASA

  1. sebagai personal.   digunakan untuk diri sendiri
  2. sebagai alat interaksional (dua arah / face to face). digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain
  3. sebagai alat instrumental (satu arah)
  4. sebagai alat regulatoris
  5. heuristik (alat untuk memecahkan suatu persoalan)
  6. imajinatif (masalah keindahan / artistik)
  7. representasional / lambang

UNSUR BAHASA

1. simbol

  • sesuatu yang menyatakan sesuatu yang lain
  • hasil kesepakatan / tidak terjadi dengan sendirinya

2. simbol vokal

bunyi-bunyi yang urutan bunyinya dihasilkan oleh kerjasama antara tubuh dengan sistem pernafasan.

3. simbol-simbol vokal yang arbitrer

tidak perlu adanya hubungan yang valid antara ucapan lisan dan arti

4. sistem terstruktur dari simbol-simbol yang arbitrer

  • adanya konsentrasi
  • ketetapan internal

interaksi sangan dipengaruhi oleh bahasa.

semantik = ilmu tentang makna dalam bahasa

KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA

– sebagai bahasa nasional

– sebagai lambang kebanggaan nasional

bukti sanggup mengatasi perbedaan

– sebagai lambang identitas nasional

untuk membangun kepercayaan diri yang kuat perlu identitas

dapat mengidentikkandiri sebagai bangsa

– sebagai alat pemersatu

– sebagai alat penghubung antar daerah dan budaya bangsa (LINGUA FRANCA)