Tag Archive | kuliah

PERSEPSI, SIKAP dan NILAI


PERSEPSI
•Pengertian Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu suatu stimulus yang diterima oleh individu melalui alat reseptor yaitu indera. Alat indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya. Persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh individu, diorganisasikan kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera.
Dengan kata lain persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia. Persepsi merupakan keadaan integrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Apa yang ada dalam diri individu, pikiran, perasaan, pengalaman-pengalaman individu akan ikut aktif berpengaruh dalam proses persepsi.
Pengertian persepsi menurut para ahli :
•Menurut Kotler (2000) menjelaskan persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti.
•Gibson, dkk (1989) dalam buku Organisasi Dan Manajemen Perilaku, Struktur; memberikan definisi persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek). Gibson juga menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu. Oleh karena itu, setiap individu memberikan arti kepada stimulus secara berbeda meskipun objeknya sama. Cara individu melihat situasi seringkali lebih penting daripada situasi itu sendiri.
•Walgito (1993) mengemukakan bahwa persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus. Individu dalam hubungannya dengan dunia luar selalu melakukan pengamatan untuk dapat mengartikan rangsangan yang diterima dan alat indera dipergunakan sebagai penghubungan antara individu dengan dunia luar. Agar proses pengamatan itu terjadi, maka diperlukan objek yang diamati alat indera yang cukup baik dan perhatian merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan. Persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan bertindak.
Persepsi berarti analisis mengenai cara mengintegrasikan penerapan kita terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah ada, dan selanjutnya mengenali benda tersebut
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian persepsi merupakan suatu proses penginderaan, stimulus yang diterima oleh individu melalui alat indera yang kemudian diinterpretasikan sehingga individu dapat memahami dan mengerti tentang stimulus yang diterimanya tersebut. Proses menginterpretasikan stimulus ini biasanya dipengaruhi pula oleh pengalaman dan proses belajar individu.

Jenis-jenis Persepsi
Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis.
•Persepsi visual
Persepsi visual didapatkan dari penglihatan. Penglihatan adalah kemampuan untuk mengenali cahaya dan menafsirkannya, salah satu dari indra. Alat tubuh yang digunakan untuk melihat adalah mata. Banyak binatang yang indra penglihatannya tidak terlalu tajam dan menggunakan indra lain untuk mengenali lingkungannya, misalnya pendengaran untuk kelelawar. Manusia yang daya penglihatannya menurun dapat menggunakan alat bantu atau menjalani operasi lasik untuk memperbaiki penglihatannya.
Persepsi ini adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan mempengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi visual merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum, sekaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan dalam konteks sehari-hari.

•Persepsi auditori
Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga. Pendengaran adalah kemampuan untuk mengenali suara. Dalam manusia dan binatang bertulang belakang, hal ini dilakukan terutama oleh sistem pendengaran yang terdiri dari telinga, syaraf-syaraf, dan otak. Tidak semua suara dapat dikenali oleh semua binatang. Beberapa spesies dapat mengenali amplitudo dan frekuensi tertentu. Manusia dapat mendengar dari 20 Hz sampai 20.000 Hz. Bila dipaksa mendengar frekuensi yang terlalu tinggi terus menerus, sistem pendengaran dapat menjadi rusak.
•Persepsi perabaan
Persepsi perabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit. Kulit dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian epidermis, dermis, dan subkutis. Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai alat peraba dengan dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan;

sebagai alat ekskresi; serta pengatur suhu tubuh. Sehubungan dengan fungsinya sebagai alat peraba, kulit dilengkapi dengan reseptor reseptor khusus. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis. Reseptor untuk tekanan, ujungnya berada di dermis yang jauh dari epidermis. Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas, ujung reseptornya terletak di dekat epidermis.
•Persepsi penciuman
Persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung. Penciuman, penghiduan, atau olfaksi, adalah penangkapan atau perasaan bau. Perasaan ini dimediasi oleh sel sensor tespesialisasi pada rongga hidung vertebrata, dan dengan analogi, sel sensor pada antena invertebrata. Untuk hewan penghirup udara, sistem olfaktori mendeteksi zat kimia asiri atau, pada kasus sistem olfaktori aksesori, fase cair.Pada organisme yang hidup di air, seperti ikan atau krustasea, zat kimia terkandung pada medium air di sekitarnya. Penciuman, seperti halnya pengecapan, adalah suatu bentuk kemosensor.
•Persepsi pengecapan
Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah. Pengecapan atau gustasi adalah suatu bentuk kemoreseptor langsung dan merupakan satu dari lima indra tradisional. Indra ini merujuk pada kemampuan mendeteksi rasa suatu zat seperti makanan atau racun. Pada manusia dan banyak hewan vertebrata lain, indra pengecapan terkait dengan indra penciuman pada persepsi otak terhadap rasa.
Sensasi pengecapan klasik mencakup manis, asin, masam, dan pahit. Belakangan, ahli-ahli psikofisik dan neurosains mengusulkan untuk menambahkan kategori lain, terutama rasa gurih (umami) dan asam lemak.Pengecapan adalah fungsi sensoris sistem saraf pusat. Sel reseptor pengecapan pada manusia ditemukan pada permukaan lidah, langit-langit lunak, serta epitelium faring dan epiglotis.

•Proses Persepsi Dan Perilaku Konsumen
Proses persepsi ini merupakan suatu urut-urutan mengenai  bagaimana persepsi itu bias masuk ke diri orang masing-masing. Persepsi masing-masing orang akan menghasilkan pemahaman yang sama, tergantung dari bagaimana penyampaian informasi kepada pihak yang bersangkutan tersebut.
Berikut ini merupakan bentuk salah satu gambaran dari sebuah persepsi yang di pahami oleh seseorang, sehingga menimbulkan kegiatan yang biasa disebut dengan perilaku konsumen.

Faktor yang mempenngaruhi Persepsi
•Faktor Internal
yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu, yang mencakup beberapa hal antara lain :
•Fisiologis.
Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.
•Perhatian.
Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu obyek.
Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.
•Minat.
Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.
•Kebutuhan yang searah.
dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seseorang individu mencari obyek/ pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.
•Pengalaman dan ingatan.
Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas.
•Suasana hati.
Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat.
•Faktor Eksternal
merupakan karakteristik dari lingkungan dan obyek-obyek yang terlibat didalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseoarang merasakannya atau menerimanya.

Sementara itu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah :
•Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus.
Faktor ini menyatakan bahwa semakin besrnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.
•Warna dari obyek-obyek.
Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang sedikit.

•Keunikan dan kekontrasan stimulus.
Stimulus luar yang penampilannya dengan latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang lain akan banyak menarik perhatian.
•Intensitas dan kekuatan dari stimulus.
Stimulus dari luar akan memberi makna lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.
•Motion atau gerakan.
Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang diam.
Faktor psikologis lain yang juga penting dalam persepsi adalah berturut-turut: emosi, impresi dan konteks.
–  Emosi; akan mempengaruhi seseorang dalam menerima dan mengolah informasi pada suatu saat, karena sebagian energi dan perhatiannya adalah emosinya tersebut. Seseorang yang sedang tertekan karena baru bertengkar dengan pacar dan mengalami kemacetan, mungkin akan mempersepsikan lelucon temannya sebagai penghinaan.
–  Impresi; stimulus yang salient / menonjol, akan lebih dahulu mempengaruhi persepsi seseorang. Gambar yang besar, warna kontras, atau suara yang kuat dengan pitch tertentu, akan lebih menarik seseorang untuk memperhatikan dan menjadi fokus dari persepsinya. Seseorang yang memperkenalkan diri dengan sopan dan berpenampilan menarik, akan lebih mudah dipersepsikan secara positif, dan persepsi ini akan mempengaruhi bagaimana ia dipandang selanjutnya.

–  Konteks; walaupun faktor ini disebutkan terakhir, tapi tidak berarti kurang penting, malah mungkin yang paling penting. Konteks bisa secara sosial, budaya atau lingkungan fisik. Konteks memberikan ground yang sangat menentukan bagaimana figure dipandang. Fokus pada figure yang sama, tetapi dalam ground yang berbeda, mungkin akan memberikan makna yang berbeda.

SIKAP
•Pengertian Sikap
Perilaku / Sikap  Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perilaku tingkat individu dan tingkat kelompok dalam suatu organisasi serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun organisasi).Perilaku organisasi juga dikenal sebagai studi tentang organisasi.
Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup.Sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu.Dapat diartikan juga sikap adalah kecenderungan bertindak, berpikir, berpersepsi, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai.Sikap bukanlah perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara tertentu terhadap objek sikap.Sikaprelatif lebih menetap atau jarang mengalami perubahan.
Menurut beberapa ahli mendefinisikan :
•Petty, cocopio, 1986 dalam Azwar S., 2000 : 6, Sikap adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri,orang lain, obyek atau issu.
•Soekidjo Notoatmojo, 1997 : 130, Sikap adalah merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek .

•Heri Purwanto, 1998 , Sikap adalah pandangan-pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak sesuai sikap objek tadi.
•Komponen Sikap
Ada tiga komponen yang secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude) yaitu :
a.Kognitif (cognitive).
Berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu.

b.Afektif (affective)
Menyangkut masalah emosional  subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu.
c.Konatif (conative)
Komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi (Notoatmodjo ,1997).
Tentunya ada faktor yang dapat mempengaruhi sikap, antara lain :
a) Adanya akumulasi pengalaman dari tanggapan-tanggapan tipe yang sama.
b) Pengamatan terhadap sikap lain yang berbeda.
c) Pengalaman (baik / buruk) yang pernah di alami.
d) Hasil peniruan terhadap sikap pihak lain secara sadar / tidak sadar.
Untuk mengubah suatu sikap, kita harus ingat bagaimana sikap dengan pola-polanya terbentuk.Sikap bukanlah diperoleh dari keturunan, tetapi dari pengalaman, linkungan, orang lain, terutama dari pengalaman dramatis yang meninggalkan kesan yang sangat mendalam.Dikarenakan sikap sebagian besar berkaitan dengan emosi, kita lebih mudah mempengaruhinya dengan emosi pula, yaitu dengan pendekatan yang ramah tamah, penuh pengertian (empathy) dan kesabaran.
Karakteristik Sistem Sikap :
•Sikap ekstrem (sulit berubah).
•Multifleksitas : mudah berubah secara kongruen,nanun sulit berubah secara inkongruen dan sebaliknya.
•Konsistensi (sikap yang stabil).
•Interconnectedness : keterikatan suatu sikap dengan sikap lain dalam suatu kluster.
•Konsonan : sikap yang saling berderajat selaras akan lebih cenderung membentuk suatu kluster.
•Fungsi Sikap
Untuk melihat lebih lanjut mengenai sikap belajar sebenarnya ada sesuatu yang melatarbelakangi mengapa siswa mengambil sikap. Hal ini berkaitan erat dengan fungsi sikap, sebagai berikut:

1)    Sikap sebagai instrumen atau alat untuk mencapai tujuan (instrumental function).
Seseorang mengambil sikap tertentu terhadap objek atas dasar pemikiran sampai sejauh mana objek sikap tersebut dapat digunakan sebagai alat atau instrumen untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Kalau objek itu mendukung dalam pencapaian tujuan, maka orang akan mempunyai sikap yang positif terhadap objek yang bersangkutan, demikian pula sebaliknya. Fungsi ini juga sering disebut sebagai fungsi penyesuaian (adjustment), karena dengan mengambil sikap tertentu seseorang akan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya.
2) Sikap sebagai pertahanan ego
Kadang-kadang orang mengambil sikap tertentu terhadap sesuatu objek karena untuk mempertahankan ego atau akunya. Apabila seseorang merasa egonya terancam maka ia akan mengambil sikap tertentu terhadap objek demi pertahanan egonya. Misalnya orang tua mengambil sikap begitu keras (walaupun sikap itu sebetulnya tidak benar), hal tersebut mungkin karena dengan sikap keadaan ego atau aku-nya dapat dipertahankan.
3) Sikap sebagai ekspresi nilai
Yang dimaksud ialah bahwa sikap seseorang menunjukkan bagaimana nila-nilai pada orang tua. Sikap yang diambil oleh seseorang mencerminkan sistem nilai yang ada pada diri orang tersebut.
4) Sikap sebagai fungsi pengetahuan
Ini berarti bahwa bagaimana sikap seseorang terhadap sesuatu objek akan mencerminkan keadaan pengetahuan dari orang tersebut. Apabila pengetahuan seseorang mengenai sesuatu belum konsisten maka hal itu akan berpengaruh pada sikap orang itu terhadap objek tersebut.

NILAI
•Pengertian Nilai
Pandangan/anggapan/kepercayaan mengenai sesuatu itu baik atau buruk  Mengandung kepercayaan: suatu tindakan atau perbuatan dianggap patut ataupun tidak,berdasarkan pertimbangan baik secara individu maupun masyarakat  Kepercayaan, mitos, ritual keagamaan dapat jadi sumber data untuk mendiagnosa organisasi .
Nilai dalam perkembangan organisasi adalah nilai yang berorientasi pada humanism, menghagai pendapat, dan segala macam bentuk konflik yang terjadi harus di angkat ke permukaan.
•Jenis – Jenis Nilai
Berkaitan dengan kriteria pengambilan keputusan, Anderson menjelaskan bahwa nilai-nilai yang kemungkinan menjadi pedoman perilaku para pembuat keputusan itu dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu :
1.Nilai-nilai Pribadi
Hasrat untuk melindungi atau memenuhi kesejahteraan atau kebutuhan fisik atau kebutuhan finansial’ reputasi diri, atau posisi historis kemungkinan juga digunakan- oleh para pembuat keputusan sebagai kriteria dalam pengambilan keputusan.
2.Nilai-nilai politik.
Pembuat keputusan mungkin melakukan penilaian atas altematif kebijaksanaan yang dipilihnya dari sudut pentingnya altematif-altematif itu bagi partai politiknya atau bagi kelompok-kelompok klien dari badan atau organisasi yang dipimpinnya.
3.Nilai-nilai organisasi.
Para pembuat keputusan, khususnya birokrat (sipil atau militer), mungkin dalam mengambil keputusan dipengaruhi oleh nilai-nilai organisasi di mana ia terlibat di dalamnya’ Organisasi, semisal badan-badan administrasi, menggunakan berbagai bentuk ganjaran dan sanksi dalam usahanya untuk memaksa para anggotanya menerima, dan bertindak sejalan dengan nilai-nilai yang telah digariskan oleh organisasi.
4.Nilai-nilai kebijaksanaan.
Dari perbincangan di atas, satu hal hendaklah dicamkan, yakni janganlah kita mempunyai anggapan yang sinis dan kemudian menarik kesimpulan bahwa para pengambil keputusan politik ini semata-mata hanyalah dipengaruhi oleh pertimbangan-penimbangan demi keuntungan politik, organisasi atau pribadi.
•Fungsi Nilai
a. Nilai berfungsi sebagai standart, yaitu standart yang menunjukkan tingkah laku dari berbagai cara, yaitu :
1. Membawa individu untuk mengambil posisi khusus dalam masalah social.
2. Mempengaruhi individu dalam memilih ideologi politik atau agama.
3. Menunjukkan gambaran-gambaran self terhadap orang lain
4. Menilai dan menentukan kebenaran dan kesalahan atas diri sendiri dan orang lain.
5. Merupakan pusat pengkajian tentang proses-proses perbandingan untuk menentukan individu     bermoral dan kompeten.
6. Nilai di gunakan untuk mempengaruhi orang laina tau mengubahnya
7. Nilai sebagai standart dalam proses rasionalisasi yang dapat terjadi pada setiap tindakan yang kurang dapat di terima oleh pribadi atau masyarakat dan meningkatkan self-esteem.
b. Nilai berfungsi sebagai rencana umum (general plan) dalam menyelesaikan konflik dan pengambilan keputusan.

c. Nilai berfungsi motivasional. Nilai memiliki komponen motivasional yang kuat seperti halnya komponen kognitif, afektif, dan behavioral.
d. Nilai berfungsi penyesuaian, isi nilai tertentu di arahkan secara langsung kepada cara bertingkah laku serta tujuan akhir yang berorientasi pada penyesuaian. Nilai berorientasi penyesuaian sebenarnya merupakan nilai semu karena nilai tersebut di perlukan oleh individu sebagai cara untuk menyesuaikan diri dari tekanan kelompok. Di dalam proses penyesuaiannya pertama-tama individu mengubah nilai secara kognitif ke dalam nilai yang dapat di pertahankan secara social maupun personal, dan nilai yang demikian pasti akan mudah untuk penyesuaianm diri dengan nilai yang berbeda.
e. Nilai berfungsi sebagai ego defensive. Di dalam prosesnya nilai mewakili konsep-konsep yang telah tersedia sehingga dapat mengurangi ketegangan dengan lancer dan mudah.
f. Nilai berfungsi sebagai pengetahuan dan aktualisasi diri. Nilai sebagai modal tingkah laku atau cara bertin dak secara eksplisit maupun implisit melibatkan fungsi aktualisasi diri. Fungsi pengetahuan berarti pencarian arti kebutuhan untuk mengerti, kecenderungan terhadap kesatuan persepsi dan keyakinan yang lebih baik untuk melengkapi kejelasan dan konsepsi.

3.4 Nilai Lintas Kultur
Dapat dilihat melalui 2 macam kerangka berpikir, yaitu:
•kerangka hofstede yang mempunyai lima dimensi penilaian terdiri dari:
•jarak kekuasaan
•individualisme vs kolektifisme
•maskulinitas vs mefinitas
•pengindraan ketidakpastian
•orientasi jangka panjang vs orientasi jangka pendek
•kerangka Globe , yang mempunyai delapan dimensi penilaian terdiri dari:
•ketegasan
•orientasi masa depan
•perbedaan gender
•penghindaran ketidakpastian
•jarak kekuasaan
•individualisme maupun kolektifisme
•orientasi kinerja
•orientasi kemanusiaan

BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan
Dari ulasan diatas, dapat disimpulkan bahwa Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu suatu stimulus yang diterima oleh individu melalui alat reseptor yaitu indera. Alat indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya. Persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh individu, diorganisasikan kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera. Sedangkan pengertian dari Perilaku / Sikap  Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perilaku tingkat individu dan tingkat kelompok dalam suatu organisasi serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun organisasi).Perilaku organisasi juga dikenal sebagai studi tentang organisasi. Dan pengertian dari nilai merupakan pandangan/anggapan/kepercayaan mengenai sesuatu itu baik atau buruk  Mengandung kepercayaan: suatu tindakan atau perbuatan dianggap patut ataupun tidak,berdasarkan pertimbangan baik secara individu maupun masyarakat  Kepercayaan, mitos, ritual keagamaan dapat jadi sumber data untuk mendiagnosa organisasi.
Saran
Persepsi , sikap dan nilai merupakan hal yang menjadi satu kesatuan dan merupakan komponen yang saling berhubungan. Dalam suatu organisasi jika persepsi, sikap dan nilai dapat dijalankan atau diterapkan dengan baik dan benar maka organisasi tersebut dapat berjalan dengan baik dan dapat menjadi organisasi yang berkembang. Untuk itu hendaknya semua pelaku organisasi atau orang-orang yang berada didalam organisasi tersebut dapat mengerti dan menerapkan tentang persepsi, sikap dan nilai yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

•http://hendriansdiamond.blogspot.com/2012/01/nilai-nilai-dan-jenis-jenis-pengambilan.html
•http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/23/komponen-sikap/
•http://www.masbow.com/2009/08/apa-itu-persepsi.html
•http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi

kelompok 2

PERSEPSI, SIKAP DAN NILAI

Advertisements

DASAR DASAR PERILAKU INDIVIDU


KARAKTERISTIK BIOGRAFIS

Karakteristik biografis yaitu karakteristik pribadi seperti umur, jenis kelamin, dan status kawin yang objektif dan mudah diperoleh dari rekaman pribadi. Setiap individu tentu saja memiliki karakteristik individu yang menentukan terhadap perilaku individu. Yang pada akhirnya menghasilkan sebuah motivasi individu.

a. Usia

Usia sangat berpengaruh terhadap karakteristik biografis individu. Perbedaan usia akan membedakan seberapa besar produktivitas individu tersebut dalam melakukan aktivitas. Semakin tua usia individu maka produktivitas individu tersebut akan semakin menurun. Usia banyak mempengaruhi dalam individu seperti terhadap produktivitas, kepuasan kerja, pengunduran diri, dan tingkat keabsenan.

• Usia Terhadap Produktivitas : sebagian berasumsi bahwa semakin bertambahnya usia maka produktivitas akan menurun, namun tidak kajian lain menyatakan bahwa antara usia dan kinerja tidak ada hubungan, sebab usia yang bertambah biasanya akan dapat ditutupi dengan pengalaman yang cukup lama.

• Usia Terhadap Kepuasan Kerja : terdapat bermacam hasil penelitian, sebagian penelitian menunjukkan hubungan positif antara bertambahnya usia dengan kepuasan kerja sampai pada umur 60 tahun, namun sebagian penelitian mencoba memisahkan antara karyawan professional dengan non-profesional, bahwa karyawan yang profesional kepuasannya akan terus menerus meningkat seiring bertambahnya usia, dan karyawan yang non profesional merosot selama usia setengah baya dan kemudian naik lagi pada tahun-tahun berikutnya.

• Usia Terhadap Tingkat Pengunduran diri : Semakin Tua maka tingkat pengunduran diri semakin rendah

• Usia Terhadap Tingkat Keabsenan : Semakin Tua maka tingkat keabsenan akan semakin rendah, namun tidak selalu demikian, karyawan tua mempunyai tingkat keabsenan dapat dihindari lebih rendah dibanding yang muda, namun karyawan tua mempunya tingkat kemangkiran tak terhindarkan lebih tinggi.

b. Jenis Kelamin

Tidak ada perbedaan yang mencolok antara pria dan wanita, kecuali jika dikaitkan dengan budaya setempat berkaitan dengan keabsenan, bahwa wanita lebih memiliki tingkat kebasenan yang tinggi dibandingkan dengan pria, hal ini berkaitan dengan tanggung jawab dan fungsi dari seorang wanita. Wanita memikul tanggung jawab rumah tangga dan keluarga yang lebih besar, juga masalah kewanitaan.

Tidak ada beda yang signifikan / bermakna dalam produktifitas kerja antara pria dengan wanita. Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa jenis kelamin karyawan mempengaruhi kepuasan kerja. Beberapa studi menjumpai bahwa wanita mempunyai tingkat keluar yang lebih tinggi, dan studi lain menjumpai tidak ada perbedaan antara hubungan keduanya.wanita mempunyai tingkat absensi yang lebih tinggi (lebih sering mangkir).

c. Status Perkawinan

Tidak terdapat hubungan antara status perkawinan dengan produktivitas, namun hasil riset menunjukkan bahwa karyawan yang telah menikah mempunyai tingkat pengunduruan diri yang rendah, tingkat keabsenan yang rendah dan lebih puas dengan pekerjaannya dibanding rekan sejawat yang belum menikah, hal ini dapat dikaitkan dengan status perkawinan yang menuntut suatu tanggung jawab lebih besar.

d. Masa Kerja

Tidak ada alasan bahwa karyawan yang lebih lama bekerja (senior) akan lebih produktif dari pada yang junior. Senioritas / masa kerja berkaitan secara negatif dengan kemangkiran dan dengan tingkat turnover.

• Masa kerja dengan produktivitas menunjukkan hubungan yang positif

• Masa kerja dengan keabsenan menunjukkan hubungan yang negative

• Masa kerja dengan tingkat pengunduran diri menunjukkan bahwa karyawan senior semakin kecil kemungkinan untuk mengundurkan diri

• Masa kerja dan kepuasan kerja saling berkaitan positif

KEMAMPUAN

Kemampuan diartikan sebagai kapasitas individu untuk melaksanakan berbagai tugas dalam pekerjaan tertentu.

Kemampuan seseorang tersusun dari dua factor :

1. Kemampuan intelektual :

Kapasitas untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan mental.

Misalnya : berpikir, menganalisis, memahami yang mana dapat diukur dalam bentuk tes (tes IQ).

Dan setiap orang punya kemampuan yang berbeda. Dalam dasawarsa terakhir terdapat hasil penelitian mengenai intelegensia yang dapat melebihi kemampuan mental.

Dimana intelegensia dapat dipahami secara lebih baik dengan menguraikannya menjadi empat sub-bagian :

* Kognitif : bakat yg ditemukan oleh tes IQ

* Sosial : kemampuan berhubungan dgn orang lain secara efektif

* Emosi : kemampuan u/ mengidentifikasi, memahami dan mengelola emosi

* Budaya : kesadaran akan keberagaman budaya & kemampuan u/ menjalankan fungsi lintas budaya tsb

2. kemampuan fisik

Kemampuan menjalankan tugas yang menuntut stamina, keterampilan, kekuatan, dan karakteristik-karakteristik serupa.

KEPRIBADIAN

Merupakan cara individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain. kepribadian terbentuk dari faktor keturunan, juga lingkungan (budaya, norma keluarga dan pengaruh lainnya), dan juga situasi. ciri dari kepribadian merupakan karakteristik yang bertahan, yang membedakan perilaku seorang individu, seperti sifat malu, agresif, mengalah, malas, ambisius,setia.

PROSES PENBELAJARAN

Proses pembelajaran adalah bagaimana kita dapat menjelaskan dan meramalkan perilaku, dan pahami bagaimana orang belajar. Belajar adalah setiap perubahan yang relatif permanen dari perilaku yang terjadi sebagai hasil pengalaman.

• belajar melibatkan perubahan (baik ataupun buruk)

• perubahan harus relatif permanen

• belajar berlangsung jika ada perubahan tindakan / perilaku

• beberapa bentuk pengalaman diperlukan untuk belajar. pengalaman dapat diperoleh lewat pengamatan langsung atau tidak langsung (membaca) atau lewat praktek.

Ada beberapa teori pembelajaran :

1. Pengondisisan Klasik

Pengondisian klasik dikemukakan berdasarkan eksperimen oleh seorang ahli fisiolog Rusia bernama IvanPavlov. Pengondisian klasik merupakan jenis pengondisian dimana individu merespons beberapa stimulus yang tidak biasa dan menghasilkan respons baru. Dikenal beberapa istilah dalam pengondisian klasik yaitu : rangsangan tidak berkondisi,rangsangan berkondisi, dan respons tidak berkondisi, dan respons berkondisi. Pengondisian klasik adalah pasif. Sesuatu terjadi dan kita bereaksi dalam cara tertentu. Reaksi tersebut diperoleh sebagai respons terhadap kejadian tertentu yang dapat dikenali.Dengan demikian hal ini dapat menjelaskan perilaku refleksi sederhana.

2. Pengkondisian operan

Pengkondisian operan merupakan jenis pengkondisian dimana perilaku sukarela yang diharapkan menghasilkan penghargaan atau mencegah sebuah hukuman. Perilaku operant berkebalikan dengan perilaku refleksi. Kecenderungan untuk mengulang perilaku seperti ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan perilaku. Konsep ini dikemukakan oleh psikolog Harvard, B. F. Skinner. Pengondisian operant merupakan bagian dari konsep Skinner mengenai paham perilaku, yang menyatakan bahwa perilaku mengikuti rangsangan dalam cara yang relatif tidak terpikirkan. Jika sebuah perilaku gagal untuk ditegaskan secara positif, probabilitas bahwa perilaku tersebut akan terulang pun menurun.

3. Pembelajaran sosial

Pembelajaran sosial merupakan pandangan bahwa orang-orang dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Teori ini berasumsi bahwa perilaku adalah sebuah fungsi dari konsekuensi, dan mengakui keberadaan pembelajaran melalui pengamatan dan pentingnya persepsi dalam pembelajaran. Individu merespons pada bagaimana mereka merasakan dan mendefinisikan konsekuensi, bukan pada konsekuensi objektif itu sendiri.Pengaruh model-model adalah sentral pada sudut pandang pembelajaran sosial.

Empat proses untuk menentukan pengaruh sebuah model pada seorang individual

a. Proses Perhatian.

Individu belajar dari sebuah modelhanya ketika mereka mengenali dan mencurahkan perhatian terhadap fitur-fitur pentingnya.

b. Proses Penyimpanan.

Pengaruh sebuah model akan bergantung pada seberapa baik individu mengingattindakan model setelah model tersebut tidak lagi tersedia.

c. Proses Reproduksi Motor.

Setelah seorang melihat sebuah perilaku baru dengan mengamati model, pengamatan tersebut harus diubah menjadi tindakan.

d. Proses Penegasan.

Individu akan termotivasi untuk menampilkan perilaku yang dicontohkan jika tersediainsentif positif atau penghargaan yang tegas. Selain pembelajaran seperti diatas, manajer juga perlu melakukan pembentukan perilaku karyawan sebagai suatu alat manajerial. Karyawan harus berperilaku dengan cara-cara yang paling memberi manfaat bagi organisasi.

Ciri dari belajar adalah :

• belajar melibatkan perubahan (baik ataupun buruk)

• perubahan harus relatif permanen

• belajar berlangsung jika ada perubahan tindakan / perilaku

• beberapa bentuk pengalaman diperlukan untuk belajar.

pengalaman dapat diperoleh lewat pengamatan langsung atau tidak langsung (membaca) atau lewat praktek.

PRESEPSI

Merupakan suatu proses dengan mana individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan-kesan indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungannya.

distorsi persepsi (penyimpangan persepsi) :

• persepsi selektif,

orang-orang yang secara selektif menafsirkan apa yang mereka saksikan berdasarkan kepentingan, latar belakang, pengalaman, dan sikap.

• efek halo,

menarik suatu kesan umum mengenai individu berdasarkan suatu karakteristik tunggal (kesan pertama)

• efek kontras,

evaluasi dari karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh perbandingan dengan orang lain yang baru dijumpai, yang berperingkat lebih tinggi atau lebih rendah pada karakteristik yang sama.

• proyeksi,

menghubungkan karakteristik pribadinya terhadap karakteristik pribadi orang lain.

• stereotype,

menilai seseorang atas dasar persepsi kita terhadap kelompok dari orang tersebut (menggeneralisasikan)

SIKAP

Sikap adalah pernyataan atau pertimbangan evaluatif (menguntungkan atau tidak menguntungkan) mengenai objek, orang dan peristiwa. Sikap mencerminkan bagaimana seseorang merasakan mengenai sesuatu. Dalam perilaku organisasi, pemahaman atas sikap penting. Karena sikap mempengaruhi perilaku kerja.

Komponen sikap :

• kognitif,

segmen pendapat atau keyakinan dari suatu sikap

• afektif,

segmen emosional dari suatu sikap

• perilaku,

suatu maksud untuk perilaku dalam suatu cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu.

KEPUASAN KERJA

Kepuasan kerja adalah suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. atau persaan senang atau tidak senang terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja mempengaruhi sikap.

Yang menetukan kepuasan kerja meliputi :

• kerja yang secara mental menantang. kesempatan menggunakan ketrampilan / kemampuan, tugas yang beragam, kebebasan, dan umpan balik.

• ganjaran yang pantas. sistem upah dan kebijakan promosi yang adil.

• kondisi kerja yang mendukung. lingkungan kerja yang aman, nyaman, fasilitas yang memadai.

• rekan kerja yang mendukung. rekan kerja yang ramah dan mendukung, atasan yang ramah, memahami, menghargai dan menunjukan keberpihakan kepada bawahan.

• kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan. bakat dan kemampuan karyawan sesuai dengan tuntutan pekerjaan. kepuasan kerja yang rendah, mengakibatkan keluhan, absensi, dan tingkat turnover tinggi. Namun membuat tingkat produktifitas rendah juga.

PERILAKU ORGANISASI POSITIF

Perilaku organisasi positif (POB) merujuk pada penelitian dan penerapan yang berorientasi positif kekuatan sumber daya manusia dan kapasitas psikologis yang dapat diukur, dikembangkan, dan efektif untuk peningkatan kinerja di tempat kerja hari ini. Perilaku organisasi positif yang terbuka untuk pembangunan dan harus sesuatu yang dapat mengukur, mengembangkan, dan gunakan untuk meningkatkan kinerja . Seperti inti Perilaku organisasi positif, termasuk harapan, optimisme, dan ketahanan. Perilaku organisasi positif dapat berkontribusi untuk hasil organisasi yang positif. Sebagai contoh, harapan, optimisme, dan ketahanan telah dikaitkan dengan kepuasan kerja yang lebih tinggi, kebahagiaan kerja, dan komitmen organisasi. Selain itu, karakteristik karyawan positif seperti optimisme, kebaikan, humor,dan kemurahan hati diharapkan untuk berhubungan dengan prestasi kerja yang lebih tinggi tingkat

Karakteristik Perilaku Organisasi adalah :

a. Perilaku Fokus dari perilaku keorganisasian adalah perilaku individu dalam organisasi, oleh karenanya harus mampu memahami perilaku berbagai individu danorganisasi.

b. Struktur berkaitan dengan hubungan yang bersifat tetap dalam organisasi,bagaimana suatu pekerjaan dalam organisasi tersebut dirancang, dan bagaimana pekerjaan diatur.Struktur organisasi berpengaruh besar terhadap perilaku individu atau orang dalamorganisasi serta efektifitas organisasi

c. Proses proses organisasi berkaitan dengan interaksi yang terjadi antara anggota organisasi.

Proses organisasi meliputi : komunikasi,kepemimpinan,proses pengambilan keputusan dan kekuasaan. Salah satu pertimbangan utama dalam merancang struktur organisasi adalah agar berbagai proses tersebut dapat berjalansecara efektif dan efisien.

Tujuan mempelajari perilaku organisasi :

a. Memahami perilaku yang terjadi dalam organisasi.

b. Dapat meramalkan kejadian-kejadian yang terjadi.

c. Dapat mengendalikan perilaku-perilaku yang terjadi dalam organisasi

PSIKOLOGI POSITIF

Psikologi positif dimulai dengan mengubah penekanan dari hal yang tidak berharga dalam hidup menjadi studi dan pemahaman terbaik dalam hidup. Tujuan psikologi positif adalah menggunakan metodologi ilmiah untuk menemukan dan mempromosikan faktor-faktor yang memungkinkan individu, kelompok, organisasi dan komunitas berkembang. Hal ini berhubungan dengan memfungsikan manusia secara optimal, bukannya menfungsikan manusia patologis.

Tiga tingkat psikologi positif menurut Seligman dan csikszentnihalyi adalah :

1. Pengalaman subyektif yang berharga. Perlakuan yang baik, kesenangan hati, kepuasan (di masa lalu), harapan dan optimism (untuk masa depan), dan kelancaran serta kebahagiaan (sekarang).

2. Karakter individu yang positif. Kapasitas untuk mencintai dan bekerja, keberanian, keahlian interpersonal, sensitifitas, sensibilitas estetika dan daya tahan memaafkan orisinalitas, pemikiran kedepan spiritualitas, talenta tinggi, dan kebijaksanaan.

3. Kepentingan dan institusi umum yang membuat individu menjadi warga Negara yang lebih baik. Tanggung jawab, pemeliharaan, altruisme, kewarganegaraan, moderat, toleransi dan etika kerja. Tujuan yang sangat positif tersebut jelas mempunyai implikasi bukan hanya terapi pendidikan kehidupan keluarga dan masyarakat, tetapi juga untuk kehidupan dan perilaku organisasi, Psikologi tidak sekedar memperbaiki apa yang salah.

KRITERIA PERILAKU ORGANISASI POSITIF

1. OPTIMISME

Psikologi memperlakukan optimisme sebagai karakteristik yang berkenaan dengan harapan atas hasil akhir positif. Dampak positif dari optimisme terhadap kesehatan fisik dan psikologis, karakteristik ketekunan, prestasi, dan motivasi yang menyebabkan keberhasilan akademis, olahraga, politik, dan pekerjaan. Di sisi lain, optimisme juga dapat mengalami kemunduran, disfungsi, dan kerugian. Optimisme juga sering digunakan dalam hubungannya dengan konstruksi positif lainya seperti kecerdasan emosi. Misalnya memberikan perhatian terhadap peranan optimisme mengenai kecerdasan emosi yang bahkan merujuk optimisme sebagai sikap kecerdasan emosi.

2. HARAPAN

Definisi harapan menurut C. Rick Snyder adalah keadaan motivasi positif yang didasarkan pada rasa keberhasilan :

a. Agensi (energi terarah pada tujuan)

b. Jalan (rencana mencapai tujuan). Dampak positif dari harapan berhubungan dengan akademis, olahraga, dan kesehatan fisik dan mental. Harapan memiliki dampak positif terhadap proses wirausaha.

3. KEBAHAGIAAN

Kebahagiaan didefinisikan sebagai sisi afektif seseorang (suasana hati dan emosi) dan evaluasi kehidupan mereka. Kebahagiaan juga banyak dikenal dalam psikologi positif.

Komponen-komponen kebahagiaan dapat diidentifikasi melalui:

1. Kepuasan hidup.

Penilaian global mengenai kehidupan seseorang.

2. Kepuasan dengan domain yang penting. Contohnya mencangkup kepuasan kerja.

3. Pengaruh positif.

Pengalaman emosi dan suasana hati yang menyenangkan.

4. Level pengaruh negatif yang rendah.

Pengalaman emosi dan suasana hati yang sedikit tidak menyenangkan.

4. RESILIENSI

Resiliensi didefinisikan sebagai fenomena yang ditandai dengan pola-pola adaptasi positif dalam konteks kesukaran. Resiliensi dipandang sebagai kapasitas untuk memikul kesukaran, konflik, kegagalan atau bahkan kejadian positif, kemajuan, dan tanggung jawab yang meningkat.

Resiliensi dipengaruhi oleh tiga faktor :

a. Aset Resiliensi dapat dikembangkan dengan meningkatkan aset yang dimiliki seseorang melalui pendidikan, pelatihan, dan dengan menjaga hubungan sosial, dan secara umum dengan meningkatkan kualitas sumber daya yang tersedia untuk dimiliki seseorang.

b. Resiko Faktor resiko dapat dikelola dengan menjaga kesehatan fisik dan psikologis.

c. Proses adaptasi Proses adaptasi dapat ditingkatkan dengan mengembangkan kapasitas psikologis positif lainya seperti efikasi diri, harapan, optimisme, juga dengan mengajarkan bagaimana mengatasi masalah dengan efektif, managemen stress, pemecahan masalah, dan strategi pencapaian tujuan.

5. PERCAYA DIRI ATAU EFIKASI DIRI

Efikasi diri bersifat karakter, karena ia ditunjukan untuk tugas spesifik dan dapat dilatih dan dikembangkan. Proses efikasi diri mempengaruhi fungsi manusia bukan hanya secara langsung. Tetapi juga mempunya pengaruh tidak langsung terhadap faktor lain. Secara langsung proses efikasi diri mulai sebelum individu memilih pilihan mereka dan mengawali usaha mereka. Yang pertama, orang cenderung mempertimbangkan, mengevaluasi, dan mengintegrasikan informasi mengenai kapabilitas yang dirasakan. Langkah awal dari proses tersebut tidak begitu berhubungan dengan kemampuan atau sumber individu, tetapi lebih pada bagaimana mereka menilai atau meyakini bahwa mereka dapat menggunakan kemampuan dan sumber mereka untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

Selanjutnya, evaluasi atau presepsi menghasilkan harapan atas efikasi personal yang pada gilirannya menentukan:

1. Keputusan untuk menampilkan tugas tertentu dalam konteks ini

2. Sejumlah usaha yang akan dilakukan untuk menyelesaikan tugas.

3. Tingkat daya tahan yang akan muncul (selain masalah), tidak sesuai dengan bukti dan kesulitan yang dihadapai.

Efikasi diri secara langsung mempengaruhi :

a. Pemilihan perilaku. (Misalnya dibuat berdasarkan bagaimana efikasi yang dirasakan seseorang terhadap pilihan seperti tugas pekerjaan atau bidang karir)

b. Usaha motivasi. (Misalnya orang mencoba lebih keras dan berusaha melakukan tugas dimana efikasi diri mereka lebih tinggi daripada mereka yang memiliki efikasi rendah)

c. Daya tahan (Misalnya orang dengan efikasi diri tinggi akan bangkit, bertahan saat menghadapi masalah atau kegagalan, sementara orang dengan efikasi diri rendah cenderung menyerah saat muncul rintangan)

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan

Dalam suatu organisasi, beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja dan kepuasan karyawan dalam melaksanakan pekerjaan mempunyai peran yang cukup penting. Setiap individu memiliki kemampuan, motivasi, dan kinerja yang berbeda satu sama lain. Selain dari faktor dalam diri setiap individu, terdapat perubahan perilaku yang relatif permanen yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman yang umunmya disebut dengan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ini, individu dapat mengembangkan kemampuan serta wawasan mereka. Optimis, harapan, percaya diri perlu dimiliki setiap individu untuk mendorong mereka melaksanakan suatu pekerjaan dengan maksimal yang akhirnya akan menghasilkan kebahagiaan dan kepuasan kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Luthans ,Fred.2009.perilaku organisasi edisi 10.Andi.Yogyakarta.

Robbins,Steepens.1996. perilaku organsasi jilid I edisi bahasa Indonesia. Prenhallindo.Jakarta

Robbins,Steepens.2006.perilaku organisasi edisi kesepuluh.Indeks.Jakarta

http://agungpia.multiply.com/journal/item/23 diakses tanggal 29 februari 2012

http://id.wikipedia.org/wiki/Kemampuan diakses tanggal 2 maret 2012

http://wulandariong.blogspot.com/2006/03/karakteristik-biografi.html diakses tanggal 29 februari 2012

kelompok 1

DASAR PERILAKU INDIVIDU

DASAR-DASAR PERILAKU INDIVIDU


KARAKTERISTIK BIOGRAFIS
Karakteristik biografis yaitu karakteristik pribadi seperti umur, jenis kelamin, dan status kawin yang objektif dan mudah diperoleh dari rekaman pribadi. Setiap individu tentu saja memiliki karakteristik individu yang menentukan terhadap perilaku individu. Yang pada akhirnya menghasilkan sebuah motivasi individu.
a.    Usia
Usia sangat berengaruh terhadap karakteristik biografis individu. Perbedaan usia akan membedakan seberapa besar produktivitas individu tersebut dalam melakukan aktivitas. Semakin tua usia individu maka produktivitas individu tersebut akan semakin menurun. Usia banyak mempengaruhi dalam individu seperti terhadap produktivitas, kepuasan kerja, pengunduran diri, dan tingkat keabsenan.
•    Usia Terhadap Produktivitas : sebagian berasumsi bahwa semakin bertambahnya usia maka produktivitas akan menurun, namun tidak kajian lain menyatakan bahwa antara usia dan  kinerja tidak ada hubungan, sebab usia yang bertambah biasanya akan dapat ditutupi dengan pengalaman yang cukup lama.
•    Usia Terhadap Kepuasan Kerja : terdapat bermacam hasil penelitian, sebagian penelitian menunjukkan hubungan positif antara bertambahnya usia dengan kepuasan kerja sampai pada umur 60 tahun, namun sebagian penelitian mencoba memisahkan antara karyawan professional dengan non-profesional, bahwa karyawan yang profesional kepuasannya akan terus menerus meningkat seiring bertambahnya usia, dan karyawan yang non profesional merosot selama usia setengah baya dan kemudian naik lagi pada tahun-tahun berikutnya.
•    Usia Terhadap Tingkat Pengunduran diri : Semakin Tua maka tingkat pengunduran diri semakin rendah
•    Usia Terhadap Tingkat Keabsenan : Semakin Tua maka tingkat keabsenan akan semakin rendah, namun tidak selalu demikian, karyawan tua mempunyai tingkat keabsenan dapat dihindari lebih rendah dibanding yang muda, namun karyawan tua mempunya tingkat kemangkiran tak terhindarkan lebih tinggi.
b.    Jenis Kelamin
Tidak ada perbedaan yang mencolok antara pria dan wanita, kecuali jika dikaitkan dengan budaya setempat berkaitan dengan keabsenan, bahwa wanita lebih memiliki tingkat kebasenan yang tinggi dibandingkan dengan pria, hal ini berkaitan dengan tanggung jawab dan fungsi dari seorang wanita. Wanita memikul tanggung jawab rumah tangga dan keluarga yang lebih besar, juga masalah kewanitaan.Tidak ada beda yang signifikan / bermakna dalam produktifitas kerja antara pria dengan wanita. Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa jenis kelamin karyawan memperngaruhi kepuasan kerja. Beberapa studi menjumpai bahwa wanita mempunyai tingkat keluar yang lebih tinggi, dan studi lain menjumpai tidak ada perbedaan antara hubungan keduanya.wanita mempunyai tingkat absensi yang lebih tinggi (lebih sering mangkir).
c.    Status Perkawinan
Tidak terdapat hubungan antara status perkawinan dengan produktivitas, namun hasil riset menunjukkan bahwa karyawan yang telah menikah mempunyai tingkat pengunduruan diri yang rendah, tingkat keabsenan yang rendah dan lebih puas dengan pekerjaannya dibanding rekan sejawat yang belum menikah, hal ini dapat dikaitkan  dengan status perkawinan yang menuntut suatu tanggung jawab lebih besar.
d.    Masa Kerja
Tidak ada alasan bahwa karyawan yang lebih lama bekerja (senior) akan lebih produktif dari pada yang junior. Senioritas / masa kerja berkaitan secara negatif dengan kemangkiran dan dengan tingkat turnover.
•    Masa kerja dengan produktivitas menunjukkan hubungan yang positif
•    Masa kerja dengan keabsenan menunjukkan hubungan yang negative
•    Masa kerja dengan tingkat pengunduran diri menunjukkan bahwa karyawan senior semakin kecil kemungkinan untuk mengundurkan diri
•    Masa kerja dan kepuasan kerja saling berkaitan positif

KEMAMPUAN
Kemampuan diartikan sebagai kapasitas individu untuk melaksanakan berbagai tugas dalam pekerjaan tertentu.
Kemampuan seseorang tersusun dari dua factor :
1.    Kemampuan intelektual : Kapasitas untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan mental. Misalnya : berpikir, menganalisis, memahami yang mana dapat diukur dalam bentuk tes (tes IQ). Dan setiap orang punya kemampuan yang berbeda. Dalam dasawarsa terakhir terdapat hasil penelitian mengenai intelegensia yang dapat melebihi kemampuan mental. Dimana intelegensia dapat dipahami secara lebih baik dengan menguraikannya menjadi empat sub-bagian :
Kognitif    : bakat yg ditemukan oleh tes IQ
Sosial        : kemampuan berhubungan dgn orang lain secara efektif
Emosi        : kemampuan u/ mengidentifikasi, memahami dan mengelola emosi
Budaya    : kesadaran akan keberagaman budaya & kemampuan u/ menjalankan fungsi lintas budaya tsb
2.    kemampuan fisik : Kemampuan menjalankan tugas yang menuntut stamina, keterampilan, kekuatan, dan karakteristik-karakteristik serupa.
KEPRIBADIAN
Merupakan cara individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain. kepribadian terbentuk dari faktor keturunan, juga lingkungan (budaya, norma keluarga dan pengaruh lainnya), dan juga situasi. ciri dari kepribadian merupakan karakteristik yang bertahan, yang membedakan perilaku seorang individu, seperti sifat malu, agresif, mengalah, malas, ambisius,setia.

PROSES PENBELAJARAN
Proses pembelajaran adalah bagaimana kita dapat menjelaskan dan meramalkan perilaku, dan pahami bagaimana orang belajar. Belajar adalah setiap perubahan yang relatif permanen dari perilaku yang terjadi sebagai hasil pengalaman.
•    belajar melibatkan perubahan (baik ataupun buruk)
•    perubahan harus relatif permanen
•    belajar berlangsung jika ada perubahan tindakan / perilaku
•    beberapa bentuk pengalaman diperlukan untuk belajar. pengalaman dapat diperoleh lewat pengamatan langsung atau tidak langsung (membaca) atau lewat praktek.
Ada beberapa teori pembelajaran :
1.    Pengondisisan Klasik
Pengondisian klasik dikemukakan berdasarkan eksperimen oleh seorang ahli fisiolog Rusia bernama IvanPavlov. Pengondisian klasik merupakan jenis pengondisian dimana individu merespons beberapa stimulus yang tidak biasa dan menghasilkan respons baru. Dikenal beberapa istilah dalam pengondisian klasik yaitu : rangsangan tidak berkondisi,rangsangan berkondisi, dan respons tidak berkondisi, dan respons berkondisi.
Pengondisian klasik adalah pasif. Sesuatu terjadi dan kita bereaksi dalam cara tertentu. Reaksi tersebut diperoleh sebagai respons terhadap kejadian tertentu yang dapat dikenali.Dengan demikian hal ini dapat menjelaskan perilaku refleksi sederhana.
2.    Pengkondisian operan
Pengkondisian operan merupakan jenis pengkondisian dimana perilaku sukarela yang diharapkan menghasilkan penghargaan atau mencegah sebuah hukuman. Perilaku operant berkebalikan dengan perilaku refleksi. Kecenderungan untuk mengulang perilaku seperti ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan perilaku.
Konsep ini dikemukakan oleh psikolog Harvard, B. F. Skinner. Pengondisian operant merupakan bagian dari konsep Skinner mengenai paham perilaku, yang menyatakan bahwa perilaku mengikuti rangsangan dalam cara yang relatif tidak terpikirkan. Jika sebuah perilaku gagal untuk ditegaskan secara positif, probabilitas bahwa perilaku tersebut akan terulang pun menurun.
3.    Pembelajaran sosial
Pembelajaran sosial merupakan pandangan bahwa orang-orang dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Teori ini berasumsi bahwa perilaku adalah sebuah fungsi dari konsekuensi, dan mengakui keberadaan pembelajaran melalui pengamatan dan pentingnya persepsi dalam pembelajaran. Individu merespons pada bagaimana mereka merasakan dan mendefinisikan konsekuensi, bukan pada konsekuensi objektif itu sendiri.Pengaruh model-model adalah sentral pada sudut pandang pembelajaran sosial. Empat proses untuk menentukan pengaruh sebuah model pada seorang individual
a.    Proses Perhatian.
Individu belajar dari sebuah modelhanya ketika mereka mengenali dan mencurahkan perhatian terhadap fitur-fitur pentingnya.
b.    Proses Penyimpanan.
Pengaruh sebuah model akan bergantung pada seberapa baik individu mengingattindakan model setelah model tersebut tidak lagi tersedia.
c.    Proses Reproduksi Motor.
Setelah seorang melihat sebuah perilaku baru dengan mengamati model, pengamatan tersebut harus diubah menjadi tindakan.
d.    Proses Penegasan.
Individu akan termotivasi untuk menampilkan perilaku yang dicontohkan jika tersediainsentif positif atau penghargaan yang tegas.
Selain pembelajaran seperti diatas, manajer juga perlu melakukan pembentukan perilaku karyawan sebagai suatu alat manajerial. Karyawan harus berperilaku dengan cara-cara yang paling memberi manfaat bagi organisasi.
Ciri dari belajar adalah :
•    belajar melibatkan perubahan (baik ataupun buruk)
•    perubahan harus relatif permanen
•    belajar berlangsung jika ada perubahan tindakan / perilaku
•    beberapa bentuk pengalaman diperlukan untuk belajar. pengalaman dapat diperoleh lewat pengamatan langsung atau tidak langsung (membaca) atau lewat praktek.
PERILAKU ORGANISASI POSITIF
Perilaku organisasi positif (POB) merujuk pada penelitian dan penerapan yang berorientasi positif kekuatan sumber daya manusia dan kapasitas psikologis yang dapat diukur, dikembangkan, dan efektif untuk peningkatan kinerja di tempat kerja hari ini. Perilaku organisasi positif yang terbuka untuk pembangunan dan harus sesuatu yang dapat mengukur, mengembangkan, dan gunakan untuk meningkatkan kinerja . Seperti inti Perilaku organisasi positif, termasuk harapan, optimisme, dan ketahanan. Perilaku organisasi positif  dapat berkontribusi untuk hasil organisasi yang positif. Sebagai contoh, harapan, optimisme, dan ketahanan telah dikaitkan dengan kepuasan kerja yang lebih tinggi, kebahagiaan kerja, dan komitmen organisasi. Selain itu, karakteristik karyawan positif seperti optimisme, kebaikan, humor,dan kemurahan hati diharapkan untuk berhubungan dengan prestasi kerja yang lebih tinggi tingkat

Karakteristik Perilaku Organisasi adalah :
a.    Perilaku
Fokus dari perilaku keorganisasian adalah perilaku individu dalam organisasi, oleh karenanya harus mampu memahami perilaku berbagai individu danorganisasi.
b.    Struktur
berkaitan dengan hubungan yang bersifat tetap dalam organisasi,bagaimana suatu pekerjaan dalam organisasi tersebut  dirancang, dan bagaimana pekerjaan diatur.Struktur organisasi berpengaruh besar terhadap perilaku individu atau orang dalamorganisasi serta efektifitas organisasi
c.    Proses
proses organisasi berkaitan dengan interaksi yang terjadi antara anggota organisasi. Proses organisasi meliputi : komunikasi,kepemimpinan,proses pengambilan keputusan dan kekuasaan. Salah satu pertimbangan utama dalammerancang struktur organisasi adalah agar berbagai proses tersebut dapat berjalansecara efektif dan efisien.

Tujuan mempelajari perilaku organisasi  :
a. Memahami perilaku yang terjadi dalam organisasi.
b. Dapat meramalkan kejadian-kejadian yang terjadi.
c. Dapat mengendalikan perilaku-perilaku yang terjadi dalam organisasi

PSIKOLOGI POSITIF
Psikologi positif dimulai dengan mengubah penekanan dari hal yang tidak berharga dalam hidup menjadi studi dan pemahaman terbaik dalam hidup. Tujuan psikologi positif adalah menggunakan metodologi ilmiah untuk menemukan dan mempromosikan faktor-faktor yang memungkinkan individu, kelompok, organisasi dan komunitas berkembang. Hal ini berhubungan dengan memfungsikan manusia secara optimal, bukannya menfungsikan manusia patologis.
Tiga tingkat psikologi positif menurut Seligman dan csikszentnihalyi adalah :
1.    Pengalaman subyektif yang berharga. Perlakuan yang baik, kesenangan hati, kepuasan (di masa lalu), harapan dan optimism (untuk masa depan), dan kelancaran serta kebahagiaan (sekarang).
2.    Karakter individu yang positif. Kapasitas untuk mencintai dan bekerja, keberanian, keahlian interpersonal, sensitifitas, sensibilitas estetika dan daya tahan memaafkan orisinalitas, pemikiran kedepan spiritualitas, talenta tinggi, dan kebijaksanaan.
3.    Kepentingan dan institusi umum yang membuat individu menjadi warga Negara yang lebih baik. Tanggung jawab, pemeliharaan, altruisme, kewarganegaraan, moderat, toleransi dan etika kerja.
Tujuan yang sangat positif tersebut jelas mempunyai implikasi bukan hanya terapi pendidikan kehidupan keluarga dan masyarakat, tetapi juga untuk kehidupan dan perilaku organisasi, Psikologi tidak sekedar memperbaiki apa yang salah.
KRITERIA PERILAKU ORGANISASI POSITIF
1.    OPTIMISME
Psikologi memperlakukan optimisme sebagai karakteristik yang berkenaan dengan harapan atas hasil akhir positif. Dampak positif dari optimisme terhadap kesehatan fisik dan psikologis, karakteristik ketekunan, prestasi, dan motivasi yang menyebabkan keberhasilan akademis, olahraga, politik, dan pekerjaan. Di sisi lain, optimisme juga dapat mengalami kemunduran, disfungsi, dan kerugian.
Optimisme juga sering digunakan dalam hubungannya dengan konstruksi positif lainya seperti kecerdasan emosi. Misalnya memberikan perhatian terhadap peranan optimisme mengenai kecerdasan emosi yang bahkan merujuk optimisme sebagai sikap kecerdasan emosi.
2.    HARAPAN
Definisi harapan menurut C. Rick Snyder adalah keadaan motivasi positif yang didasarkan pada rasa keberhasilan :
a.    Agensi (energi terarah pada tujuan)
b.    Jalan (rencana mencapai tujuan).
Dampak positif dari harapan berhubungan dengan akademis, olahraga, dan kesehatan fisik dan mental. Harapan memiliki dampak positif terhadap proses wirausaha.
3.    KEBAHAGIAAN
Kebahagiaan didefinisikan sebagai sisi afektif seseorang (suasana hati dan emosi) dan evaluasi kehidupan mereka. Kebahagiaan juga banyak dikenal dalam psikologi positif.
Komponen-komponen kebahagiaan dapat diidentifikasi melalui:
1.    Kepuasan hidup. Penilaian global mengenai kehidupan seseorang.
2.    Kepuasan dengan domain yang penting. Contohnya mencangkup kepuasan kerja.
3.    Pengaruh positif. Pengalaman emosi dan suasana hati yang menyenangkan.
4.    Level pengaruh negatif yang rendah. Pengalaman emosi dan suasana hati yang sedikit tidak menyenangkan.
4.    RESILIENSI
Resiliensi didefinisikan sebagai fenomena yang ditandai dengan pola-pola adaptasi positif dalam konteks kesukaran. Resiliensi dipandang sebagai kapasitas untuk memikul kesukaran, konflik, kegagalan atau bahkan kejadian positif, kemajuan, dan tanggung jawab yang meningkat.
Resiliensi dipengaruhi oleh tiga faktor :
a.    Aset
Resiliensi dapat dikembangkan dengan meningkatkan aset yang dimiliki seseorang melalui pendidikan, pelatihan, dan dengan menjaga hubungan sosial, dan secara umum dengan meningkatkan kualitas sumber daya yang tersedia untuk dimiliki seseorang.
b.    Resiko
Faktor resiko dapat dikelola dengan menjaga kesehatan fisik dan psikologis.
c.    Proses adaptasi
Proses adaptasi dapat ditingkatkan dengan mengembangkan kapasitas psikologis positif lainya seperti efikasi diri, harapan, optimisme, juga dengan mengajarkan bagaimana mengatasi masalah dengan efektif, managemen stress, pemecahan masalah, dan strategi pencapaian tujuan.
5.    PERCAYA DIRI ATAU EFIKASI DIRI
Efikasi diri bersifat karakter, karena ia ditunjukan untuk tugas spesifik dan dapat dilatih dan dikembangkan.
Proses efikasi diri mempengaruhi fungsi manusia bukan hanya secara langsung. Tetapi juga mempunya pengaruh tidak langsung terhadap faktor lain. Secara langsung proses efikasi diri mulai sebelum individu  memilih pilihan mereka dan mengawali  usaha mereka. Yang pertama, orang cenderung mempertimbangkan, mengevaluasi, dan mengintegrasikan informasi mengenai kapabilitas yang dirasakan. Langkah awal dari proses tersebut tidak begitu berhubungan dengan kemampuan atau sumber individu, tetapi lebih pada bagaimana mereka menilai atau meyakini bahwa mereka dapat menggunakan kemampuan dan sumber mereka untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Selanjutnya, evaluasi atau presepsi menghasilkan harapan atas efikasi personal yang pada gilirannya menentukan:
1.    Keputusan  untuk menampilkan tugas tertentu dalam konteks ini
2.    Sejumlah usaha yang akan dilakukan untuk menyelesaikan tugas.
3.    Tingkat daya tahan yang akan muncul (selain masalah), tidak sesuai dengan bukti dan kesulitan yang dihadapai.
Efikasi diri secara langsung mempengaruhi :
a.    Pemilihan perilaku. (Misalnya dibuat berdasarkan bagaimana efikasi yang dirasakan seseorang terhadap pilihan seperti tugas pekerjaan atau bidang karir)
b.    Usaha motivasi. (Misalnya orang mencoba lebih keras dan berusaha melakukan tugas dimana efikasi diri mereka lebih tinggi daripada mereka yang memiliki efikasi rendah)
c.    Daya tahan (Misalnya orang dengan efikasi diri tinggi akan bangkit, bertahan saat menghadapi masalah atau kegagalan, sementara orang dengan efikasi diri rendah cenderung menyerah saat muncul rintangan)

PENGERTIAN STATISTIKA


PENGERTIAN STATISTIK

• Sempit

Mengumpulkan data yang masih acak dalam bentuk table atau dalam bentuk grafik.

• Luas

a. Sekumpulan cara dan aturan tentang pengumpulan, pengolahan, analisis serta penafsiran data

b. Sekumpulan angka yang menjelaskan sifat-sifat data atau hasil pengamatan

c. Ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk data.

PERANAN STATISTIK

• Sehari-hari → penyedia bahan-bahan atau keterangan-keterangan berbagai hal untuk diolah dan ditafsirkan Misalnya : tingkat biaya hidup, tingkat pendapatan

• Penelitian ilmiah → penyedia alat untuk mengemukakan keterangan keterangan yang ada dalam angka-angka statistik

• Ilmu pengetahuan → alat analisis dan interpretasi data kuantitatif sehingga didapatkan suatu kesimpulan dari data tersebut.

PERLUNYA STATISTIK

• Menjelaskan hubungan antara variable (analisis korelasi dan regresi) Misalnya : hubungan antara permintaan produk dengan tingkat pendapatan, promosi dengan tingkat penjualan.

• Membuat rencana dan ramalan (analisis berkala) Misalnya : rencana produksi, rencana penjualan.

• Mengatasi berbagai perubahan (dapat digunakan angka indeks) Misalnya : untuk mengukur tingkat inflasi, mengukur perubahan harga.

• Membuat keputusan yang lebih baik ( digunakan uji hipotesis) Misalnya : keputusan untuk pemasaran produksi suatu perusahaan apakah akan tinggi, sedang, rendah.

FUNGSI STATISTIK

• Bank data → menyediakan data untuk diolah dan di interpretasikan untuk menerangkan keadaan yang perlu diketahui.

• Alat quality control → alat standarisasi dan pengawasan

• Alat analisis → metode analisis data.

• Alat pemecahan masalah dan pembuat keputusan.

KEGUNAAN STATISTIK

• Sebagai alat komunikasi → penghuung beberapa pihak yang menghasilkan data yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan

• Deskriptif → penyajian dan mengilustrasi data

• Regresi → meramalkan pengaruh data

• Korelasi → mencari kuatnya atau besarnya hubungan data

• Kumparan → membandingkan data 2 kelompok atau lebih

PEMBAGIAN STATISTIK

1. Cara pengolahan data

a. Statistik deskriptif / deduktif → metode yang berkaitan dengan pengumpulan an penyajian data sehingga memberi informasi yang berguna. Meliputi :

• Distribusi frekuensi

a. Grafik ( histogram, polygon, ogif)

b. Ukuran nilai pusat

c. Ukuran dispersie

d. Keruncingan

• Angka indeks

• Time series

• Korelasi dan regresi sederhana

b. Statistik inferensia / induktif → metode yang berubungan dengan analisis data sampai pada peramalan dan penarikan kesimpulan. Ruang lingkup :

• Probabilitas

• Distribusi teoritis

• Distribusi sampling

• Pendugaan populasi

• Uji hipotesis

• Uji regresi dan korelasi

2. Ruang lingkup

a. Statistik sosial

b. Statistik pendidikan

c. Statistik ekonomi

d. Statistik perusahaan

e. dll

3. Bentuk parameter

a. Parametrik →populasinya mengikuti suatu distribusi normal dan memiliki variasi homogeny

b. Statistik non-parametrik → tidak mengikuti distribusi tertentu

SKALA PENGUKURAN

1. Untuk variabel nominal

Skala yang disusun menurut jenisnya atau kategorinya. Fungsi bilangan hanya sebagai symbol untuk membedakan karakteristik yang satu dengan yang lainya. Tes statistik yang digunaka adalah non-perametrik.

Ciri yang melekat pada nominal :

– Dapat dikategorikan / karakteristik

Misalnya :

 Jenis kelamin → 1. laki-laki, 2. Perempuan

 Jenis kulit → 1. Kuning langsat, 2. Sawo matang

2. Untuk variabel ordinal

Didasarkan pada rangking atau urutan di jenjang yang terendah sampai jenjang yang tertinggi atau sebaliknya. Tes statistik yang digunakan adalah non-perametrik.

Ciri yang melekat pada nominal harus ada pada ordinal. Meliputi :

– Dapat dikategorikan / karakteristik – Harus ada urutan / rangking

Misalnya : tingkat pendidikan → 1. SD, 2. SMP, 3. SMA, 4. PT 3.

Untuk variabel interval Skala yang menunjukan jarak antara satu data yang lainya yang mempunyai bobot yang sama. Tes statistik yang digunakan adalah uji statistic parametrik.

Ciri ciri :

– Dapat dikategorikan / karakteristik

– Harus ada urutan / rangking

– Ada jarak Misalnya : indeks prestasi

4. Untuk variabel rasional

Skala pengukuran yang mempunyai nol mutlak, dan mempunyai jarak yang sama. Uji statistik yang digunakan adalah statistik parametrik.

Ciri-ciri :

– Dapat dikategorikan / karakteristik

– Harus ada urutan / rangking

– Ada jarak

– Ada nol (0) mutlak

Misalnya : umur

a. 0-4 tahun

b. 5-9 tahun

c. 10-14 tahun

d. 15-19 tahun

e. > 20 tahun

KONSEP DASAR STATISTIK

A. POPULASI

Keseluruhan nilai yang melibatkan semua anggota kelompok obyek yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.

Misalnya : seluruh mahasiswa UB

B. SAMPEL

Bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasi.

Misalnya : mahasiswa FIA UB

C. VARIABEL

Setiap karakteristik yang bisa diklasifikasikan dalam sekurang-kurangnya 2 klasifikasi berbeda.

1. Variabel diskrit → selalu memiliki nilai bulat dalam bilangan asli dan tidak berbentuk pecahan.

Misalnya : jumlah anak dalam keluarga.

2. Variabel kontinou → memiliki nilai sembarang, baik berupa nilai bulat maupun pecahan.

Misalnya : tinggi, umur.

Jika dilihat dari fungsinya :

1. Veriabel bebas (independent variable) → variable yang fungsinya menerangkan varuabel lain.

2. Veriabel tergantung (dependent variable ) → sebuah variable yang keadaanya di tentukan oleh variable lain.

[kuliah] Hubungan Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan


Hubungan Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan :

1. Dasar-dasar Pengetahuan

Ilmu merupakan pengetahuan yang disusun secara teratur (sistematis) khususnya pengatahuan yang diperoleh melalui observasi dan pengujian fakta.

Ilmu => pengetahuan : 1. observasi dan 2. uji fakta.

Sehingga ilmu merupakan sekumpulan pengatahuan yang merupakan hasil observasi dan uji fakta. tidak semua pengetahuan merupakan ilmu.

sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI) ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu.

2. Bahasa Indonesia dan Pengambangan Ilmu Pengetahuan

Dua aspek bahasa dalam hubungannya dengan ilmu:

1. Fungsional

Merujuk pada fungsi bahasa yang begitu oenting dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai media yang dimiliki bersama dan digunakan untuk mengkomunikasikan pendapat, gagasan dan perasaan.

2. Formal

Merujuk pada sistem atau kaidah (tata bahasa) yang digunakan untuk membentuk menjadi kata dan memadu kata-kata menjadi kalimat yang bermakna. unsur :

a.Fonologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bunyi.

b. Sintaksis merupakan ilmu yang mempelajari tentang tatanan bahasa atau ilmu yang mempelajari tentang kalimat.

c. Semantik merupakan ilmu yang mempelajari tentang makna.

Hubungan bahasa, pikiran, dan ilmu pengetahuan:

* melalui kegiatan berpikir, manusia memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

* caranya, menghimpun serta memanipulasi ilmu dan pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, dan membayangkan.

* bahasa berperan sebagai simbol-simbol (representasi mental) yang dibutuhkan untuk memikirkan hal-hal yang abstrak dan tidak diperoleh melalui pengindraan.

Hubungan bahasa dan ilmu :

* Ilmu dapat berkembang jika temuan dalam ilmu itu disebarluaskan (dipublikasikan) melalui tindakan komunikasi.

* Temuan itu kemudian didiskusikan, diteliti ulang, dikembangkan, diterapkan, atau diperbaharui oleh ilmu lainya.

* Dalam proses tersebut menggunakan bahasa sebagai media (komunikasi)

[kuliah] hakikat bahasa indonesia


PERTEMUAN 1-3

HAKIKAT BAHASA

BAHASA DAN KEHIDUPAN MANUSIA

  • Apa itu bahasa?

Sistem lambang yang arbitrer yang dugunakan suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.

  • Darimana asal bahasa?
  1. dari manusia itu sendiri
  2. dari sejarah
  3. dari alam
  4. dari tuhan

upaya-upaya mengetahuinya merupakan kewajiban. seseorang yang mampumenguasai barbagai bahasa. dia akan luas pengetahuannya.

FUNGSI BAHASA

  1. sebagai personal.   digunakan untuk diri sendiri
  2. sebagai alat interaksional (dua arah / face to face). digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain
  3. sebagai alat instrumental (satu arah)
  4. sebagai alat regulatoris
  5. heuristik (alat untuk memecahkan suatu persoalan)
  6. imajinatif (masalah keindahan / artistik)
  7. representasional / lambang

UNSUR BAHASA

1. simbol

  • sesuatu yang menyatakan sesuatu yang lain
  • hasil kesepakatan / tidak terjadi dengan sendirinya

2. simbol vokal

bunyi-bunyi yang urutan bunyinya dihasilkan oleh kerjasama antara tubuh dengan sistem pernafasan.

3. simbol-simbol vokal yang arbitrer

tidak perlu adanya hubungan yang valid antara ucapan lisan dan arti

4. sistem terstruktur dari simbol-simbol yang arbitrer

  • adanya konsentrasi
  • ketetapan internal

interaksi sangan dipengaruhi oleh bahasa.

semantik = ilmu tentang makna dalam bahasa

KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA

– sebagai bahasa nasional

– sebagai lambang kebanggaan nasional

bukti sanggup mengatasi perbedaan

– sebagai lambang identitas nasional

untuk membangun kepercayaan diri yang kuat perlu identitas

dapat mengidentikkandiri sebagai bangsa

– sebagai alat pemersatu

– sebagai alat penghubung antar daerah dan budaya bangsa (LINGUA FRANCA)

 

[kuliah] materi perilaku dan pengembangan organisasi


Bab 1 Pengantar Perilaku Organisasi

Bab2 Dasar-dasar Perilaku Individual

BAB 3 Kontek Lingkungan dan Organisasi

Bab 4 Persepsi dan Atribusi

Bab 5 Sikap dan Kepuasan

Bab 6 Kebutuhan dan Motivasi

Bab 7 Perilaku Organisasi Positip

Bab 8 Komunikasi

Bab 9. Stress dan Konflik

Bab 10. Kekuasaan dan Politik

Bab 11. Kelompok dan Tim

Bab 12 Budaya Organisasi

BAB 13 Desain Struktur Organisasi edit

ini aku dapat dari kakak tingkat yang satu kelompok pas presentesi. hahahaha

lumayan lah buat belajar…..